Saya mengenal investasi di paper asset pada tahun 2015,
setelah membaca Buku Magnet Rezeki Karya Ipho Santoso dan Ahmad Ghazali. Setelah
membaca buku tersebut, saya tertarik untuk menginvestasikan sebagian dari gaji
saya ke Reksadana.
Kendala utama saya adalah saya tinggal di plosok Indonesia.
Sehingga informasi yang saya dapatkan hanya mengandalkan internet. Bertanya ke
teman? Mana ada yang tahu di pelosok begini. Ketika saya berencana membeli
reksadana saja teman saya malah nakut-nakutin, awas kena tipu lho..!
Masalahnya adalah, saya tidak tahu bagaimana cara membeli
reksadana tersebut. Setelah berselancar di dunia maya akhirnya saya tahu jika
kita ingin membeli reksadana harus melalui agen penjual, dan salah satunya
adalah bank.
Di daerah saya, bank yang ada kantor cabangnya itu hanya
BRI, dan ketika saya bertanya tentang reksadana kepada Customer Service, dia
malah kebingungan. Pupus lah harapan saya untuk berinvestasi.
Tak menyerah sampai di situ, saya terus mencari informasi
bagaimana cara membeli reksadana secara online. Dan akhirnya saya menemukan
agen penjual reksadana online yaitu IPOT.
Keunggulan dari IPOT ini adalah, saya tidak perlu datang ke
kantornya, saya cukup isi data di websitenya dan kirim berkas fisik yang
diminta melalui jasa ekspedisi. kurang
lebih satu minggu setelah mengirim berkas fisik, akhirnya akun saya telah jadi,
saya dikirim nomor RDI (Rekening Dana Investor), username, password dan pin
transaksi.
Dengan modal kepercayaan kepada IPOT, akhirnya saya resmi
menjadi nasabah IPOT. Dan reksadana pertama yang saya beli adalah BNP Paribas
Pesona Syariah, sebesar Rp. 200.000,- rupiah. Ya, dua ratus ribu kawan..!
Selain karena ingin mencoba-coba terlebih dahulu, memang hanya segitu uang yang
saya punya. 😊
Waktu pertama beli reksadana itu sekitar bulan agustus 2015,
dan pasar saham sedang sedikit crash, reksadana saya sempat minus 20% dalam
satu bulan. Dari sini saya mulai
mengetahui ternyata korelasi antara IHSG (Index Harga Saham Gabungan) dengan
reksadana saham itu sangat erat.
Dari pengalaman tersebut saya menjadi tahu, kapan waktu
terbaik membeli reksadana, yaitu saat IHSG merah. Setiap bulan saya cicil terus
itu reksadana dari sisa gaji saya, pokonya gaji masuk saya langsung siapkan
buat beli reksadana, jika IHSG merah, saya beli, jika IHSG masih hijau saya
tunggu.
Hasilnya? Lumayan. Dari semua reksadana yang saya beli,
semuanya untung. Keuntungan tertinggi sampai 25% per tahun.
